Memilih, Dipilih dan Perkara Kendara

Pada akhirnya kita dipilih atas tiap kegiatan memilih kita. Dari dulu, kini hingga akhir menutup mata.”

Perkara memilih, perkara dipilih, selalu saja menjadi bagian dari tak terpisahkan dari sejarah kemanusiaan, dari awal mula hingga sekarang di tengah kekinian. Ketika manusia dipilih menjadi khalifah, malaikat – belum paham – bertanya.

Perkara kisah terus berlanjut, ketika seluruh makhluk dipilih untuk bersujud, iblis – yang tidak pernah paham – enggan, justru mencela.

Iblis terlebih sering memilih untuk terus menggoda, Adam dan Hawa dipilih untuk digoda. Hingga buah terlarang pun dipilih untuk dirasa oleh keduanya. Adam dan Hawa dengan taubat penuh rela, bersama menjalani misi tiada tara sebagai khalifah penduduk bumi, hingga batas waktu yang ditentukan oleh Allah Yang Maha Esa.

Kisah terus berlanjut oleh masing umat manusia, pembelajaran silih berganti diisi oleh al-anbiya. Tak terlepas semua umat diberi pilihan memilih dan dinilai untuk dipilih siapa-siapa yang dapat menjadi hamba-hamba terbaik-Nya. Akumulasi pilihan menerus kian berlanjut hingga Rasulullah dipilih menjadi penutup risalah para nabi, penyempurna ajaran-Nya.

Setiap insan tak  pernah terlepas dari perkara ini, memilih, dipilih. Hingga saya ingin berbagi cerita atas tegur nasihat dari Allah Yang Maha Pencipta, atas khilaf niat dan tindak. Malam tadi saya miliki sebuah janji jumpa,  rangka urusan dunia. Maka, saya dengan penuh rencana, bersiap berangkat penuh segera, sebelum masuk waktu panggilan solat dan berniat menggeser pelaksanaan ibadah Isya.

Dengan kendara saya bersegera, untuk bergegas menuju tempat berjumpa. Tak saya sangka, ban depan motor mendadak tak berdaya. Maka mencari bengkel adalah satu-satunya cara, guna memenuhi waktu rencana. Dengan ekspektasi hanya menambal saja, menjadi ganti ban depan kendara.

Ternyata saya lupa! Ada yang harus didahulukan dari perkara dunia, yaitu perkara sesudahnya. Akhirat beserta goncangan-goncangan dari diperlihatkannya dosa dan pahala.

Mengawali jumpa, rugilah semua perkara, telat atas pahala utama, terlambat juga dari janji berjumpa. Dari tiap peristiwa, rasa-rasanya jika berkenan sedikit peka, selalu saja ada hikmah yang bermakna, bahwa teguran dihadirkan pada berbagai cara.

Pada akhirnya kita dipilih atas tiap kegiatan memilih kita. Dari dulu, kini hingga akhir menutup mata.

Advertisements

One response to “Memilih, Dipilih dan Perkara Kendara

  1. Pingback: Lap 1/12, 4/54, 31/365 | dediwiyanto·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s