Paham Yang Bukan Sehari Atau Sekali, Tapi Berkelanjutan.

…Dan Allah yang mempersatukan hati para hamba beriman. Jikapun kau nafkahkan perbehendaraan bumi seluruhnya untuk mengikat hati mereka, takkan bisa kau himpunkan hati mereka. Tetapi Allah-lah yang telah menyatupadukan mereka…” (QS Al-Anfaal (8): 63)

Pada berbagai kisah, telah banyak disampaikan narasi keberpahaman. Sebelum penciptaan manusia, malaikat belum paham kenapa manusia diciptakan (yang dituangkan pada QS Al-Baqarah (2): 30) , sehingga mereka bertanya:

“Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami  bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?”

Tapi Allah lebih paham, tentang ciptaan-Nya. Sehingga dijawablah pertanyaan malaikat tersebut:

“Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Pembelajaran keberpahaman masih terus berlanjut pada rangkaian kisah kemanusiaan. Di lain masa dan tempat, Musa pernah belum paham terhadap Hidir, sehingga dia mempertanyakan: Perahu yang dirusak, anak yang dibunuh, dan tembok yang dibetulkan tanpa diberi upah.

Tapi Hidir terlebih dulu paham atas kehendak Allah. Sebab Allah memberi paham kepada Hidir jauh sebelum Musa bertemu Hidir. Dari peristiwa ini, pemahaman Musa bertambah, meningkat dari belum paham menjadi paham, dan dari paham menjadi lebih paham. Paham yang tidak sekadar paham, tapi paham yang menjadi aksi. Dari keberpahaman yang bertambah ini Musa berdoa kepada Allah:

“Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengannya kekuatanku, dan jadikankanlah dia sekutu dalam urusanku, agar kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. sesungguhnya Engkau adalah Maha melihat (keadaan) kami.” (QS. Thaahaa (20): 25-35)

Dari kisah ini juga kita belajar untuk segera cepat paham. Sebab sebagaimana kita tahu, Fir’aun enggan paham atas atas penghambaan diri, Fir’aun rasa-rasanya lebih paham untuk mengikuti hawa nafsu saja dalam menuhankan diri. Sampai ajal menyambut, hingga seluruh pasukannya terhambat diantara belahan laut, hingga kepahamannya menjadi terlambat.

Sepertinya, masing-masing dari kita pun menjalani kisah ketidakpahaman dalam bentuk variatif nan berbeda. Saya pribadi juga pernah mengalami ketidakpahaman tersebut, apakah bermula dari salah paham yang menjadikan beda paham. Atau diri ini yang enggan untuk memaui paham. Dari hal ini, kerenggangan tiap-tiap hubungan tidak dapat terelakan dari apa yang kita sebut salah paham, yang sangat pas disampaikan oleh Salim A. Fillah berikut:

Karena saat ikatan melemah, saat keakraban merapuh

Saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan

Saat pemberian bagai bara api, saat kebaikan justru melukai

Aku tahu, yang rombeng bukan ukhuwah kita

Hanya iman-iman kita yang sedang sakit, atau mengerdil

Mungkin dua-duanya, mungkin kau saja

Tentu terlebih sering, imankulah yang compang-camping

Dimensi paham melintas pada ruang dan waktu. Siapapun manusianya, dapat paham atau tidak, tergantung seberapa besar mau. Memaui paham bertransformasi ke sejumlah bentuk; Ada yang enggan paham; Ada yang berlebih dalam paham; Ada yang ingin cukup saja dalam paham – yang mungkin saja justru tidak paham apa-apa. Kepahaman pada akhirnya menjadi pembeda dari aksi nyata, pembeda nilai dari amal perkara.

Melajukan paham, bukan perkara yang ekstrem sulit pun ekstrem mudah. Sebab paham adalah kemauan, sebab paham adalah merendahkan diri, sebab paham adalah membaca terjemahan petunjuk hati. Sekadar paham – lagi-lagi – butuh kelapangan. Kelapangan atas hati seluas jagad, sedalam samudra. Sebab paham memiliki harga.

Menyambung paham, bukanlah perkara sehari-dua-hari, sekali-dua-kali, terlebih-lebih menjadi sarana basa-basi. Mungkin mencoba mencari cela pada orang lain lebih mudah ketimbang cela pada diri. Tapi pada hal memahami, rasa-rasanya memahami diri dan orang lain adalah perkara yang setimbang sulitnya.

Dalam memahami pribadi yang berjiwa sendiri dan mandiri alih-alih bersynergi ataupun berjama’i. Memungkinkan diri sebagai pelari estafet rasa-rasanya diperlukan. Mengisi ketika kosong, dan pergi ketika telah ada yang mengisi. Kolaborasi sebenarnya cukup indah jika bisa teraplikasi, tapi rasa-rasanya mengestafetkan diri menjadi lebih dari cukup saat ini, ketimbang menabrak dan membentur.

Dan kalau dipikir seksama, bukan perkara kebetulan semata, bukan? jika sebuah peristiwa menjadi sarana agar tiap-tiap diri membaca, bersama, menyadari diri sebagai pembelajar peristiwa. Agar kelak menjadi pengurai hikmah, yang membekali diri dan jamaah. Semoga yang membaca, dapat lebih paham dari yang menulis. Wallohualam Bi Showwab.[]

Advertisements

One response to “Paham Yang Bukan Sehari Atau Sekali, Tapi Berkelanjutan.

  1. Pingback: Memaknai Kebersamaan (2) : Bukan Sekadar Momen | dediwiyanto·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s