Memaknai Kebersamaan: Irisan Sejumlah Urusan (Alfa, Beta, Charlie, Delta dan Epsilon)

Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain” (QS 94 : 7)

Kekinian menjalani hidup, menempatkan kita pada berbagai hubungan dari komunitas yang satu dengan yang lainnya. Tak jarang juga kita harus menjalani hubungan dimana kita menjadi bagian dari irisan sejumlah komunitas sekaligus. Bisa dua, tiga, empat dan seterusnya. Dan hal ini menjadi sebuah hal yang tidak terelakkan dari bagian hidup yang harus kita jalani.

Tapi, tentu saja, tiap-tiap bagian urusan manusia telah ada yang mengatur. Setiap penyakit selalu turun bersamaan dengan obatnya, maka setiap permasalahan akan selalu turun bersamaan dengan penyelesaian. Apa yang disampaikan Allah melalui pesan-pesan cinta-Nya mengandung multi-tujuan; ada yang merupakan teguran; ada yang merupakan nasihat; ada yang merupakan perintah; ada yang merupakan larangan; ada yang merupakan pencegahan; ada yang merupakan kabar; hingga pemberitahuan sejuta manfaat — yang tentunya tidak dapat terhitung lagi kebermanfaatan tersebut.

Tak ada yang luput dari Allah, dari hal yang terlihat hingga ke hal yang tidak terlihat, dari apa yang ditampakkan hingga ke hal yang disembunyikan, dari apa yang tampak salah — padahal benar — hingga apa yang tampak benar — padahal salah. Pengatur sebaik-baiknya cara berhubungan secara vertikal pun horisontal.

Dalam hubungan horisontal sesama manusia, memaknai kebersamaan sepertinya menjadi tema yang selalu menarik untuk dirasakan, untuk dirindukan, untuk dibincangkan hingga diwujudkan. Lagi-lagi kita terlebih sering lupa untuk menyandarkan pesan terbaik dalam rangka memaknai keterhubungan kita.

Mungkin jika bisa, akan dikisahkan cerita sebagai berikut:

Alfa, Beta, Charlie, Delta dan Epsilon adalah teman-teman lama, menjalani berbagai suka-duka bersama (yang bisa berdua, bertiga atau berempat pun berlima). Dalam menjalani kebersamaan tersebut, selalu saja ada cerita yang dibagi (yang pastinya, tema yang diangkat terlebih sering sama, karena kalau tidak, tidak asyik menjadi sebuah cerita, kan?).

Seiring berjalannnya kehidupan, tak bisa dipungkiri, waktu dan ruang menjadi kendala sebuah kebersamaan. Alfa, Beta dan Charlie lebih sering beraktivitas bersama, Delta sendiri, dan Epsilon juga sendiri. Mulai dari sini dimensi urusan menjadi berbeda. Alfa, Beta dan Charlie karena lebih sering bersama, maka pengalaman ketiganya tidak akan terlalu jauh. Sedang Delta dan Epsilon menjalani aktivitas yang masing-masing berbeda di tempat lain.

Tentu saja, akan ada rindu untuk bertemu, sejenak bertegur sapa, sejenak bertanya kabar, atau sekadar bersua untuk berjumpa dan berbagi canda. Maka pada satu hari yang telah ditentukan tersebutlah, kelima sahabat lama ini bertemu. Berniat menebar ceria, menyampai cerita, berbagi suka-duka. Tapi yang terjadi bukanlah demikian. Berawal mencipta kebersamaan, justru berujung pada sebuah hampa.

Bagaimana bisa? Sungguh bisa, sebab yang terjadi adalah: ketika waktu bertemu kelima sahabat ini terjadi, momen-momen mereka lebih banyak diisi pada obrolan ringan, penuh canda jenaka — pada awalnya — ditambah saling bertanya kabar kondisi pun suasana terkini. Disini semuanya tentu masih baik-baik saja, hanya saja disayangkan, Alfa, Beta dan Charlie sepertinya lupa mengatur urusan yang satu dengan yang lainnya. Membaurkan apa yang mereka alami, kepada mereka yang tidak mengalaminya (Delta dan Epsilon), ya bisa dibilang, timbullah gap-gap pembicaraan dan kebersamaan mereka dari urusan pertemuan mereka sekarang ini.

Mungkin bagi Alfa, Beta dan Charlie, urusan ini adalah hal yang biasa, toh, sudah biasa — dan tidak kenapa-kenapa. Tapi mungkin yang tidak disadari oleh ketiga sahabat Delta dan Epsilon ini adalah: mereka mempunyai lingkaran urusan mereka sendiri. Mereka terlebih sering mencipta beda ketimbang sama. Tak ayal-lah ada yang mengendur dari sebuah urusan kebersamaan mereka kini, karena masing-masing masih membawa urusan barunya masing-masing, ketimbang menggunakan “setelan” urusan kebersamaan mereka pada masa lampau.

Maka tak perlu ditanya lagi kelanjutan kisah ke-lima sahabat kita ini selanjutnya. Biarkan rekam pikir kita, yang memperkirakan skenario cerita ini, lagi. Kelanjutan dari ketidak-sungguhan dalam melanjutkan urusan satu dengan yang lainnya, hingga harus membaur dan membenturkannya. Tentu saja situasi ini pun telah menjadi perhatian oleh Rasululah ratusan tahun yang lalu, melalui sebuah hadits (Riwayat Muslim).

“Dari ‘Abdullah R.A, Katanya Rasululah SAW bersabda: “Apabila kamu bertiga, maka janganlah yang dua orang berbisik tanpa yang ketiga, sebelum dia berbaur dengan orang-orang lain. Karena hal itu dapat menyinggung perasaan.”

Sejauh inilah Islam mengajarkan etika pada sebuah, dua, tiga ataupun banyak pergaulan kita pada irisan di berbagai komunitas. Esensi pembicaraan menjadi hal penting untuk dikembalikan, pada setiap temu, selain kebermanfaatan dari kebersamaan pada tiap jumpa. Ada etika yang  layak untuk dibawa pada tiap kesungguhan kita di berbagai urusan. Wallohualam.

Advertisements

2 responses to “Memaknai Kebersamaan: Irisan Sejumlah Urusan (Alfa, Beta, Charlie, Delta dan Epsilon)

  1. Pingback: Memaknai Kebersamaan (2) : Bukan Sekadar Momen | dediwiyanto·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s