Belajar Mempelajari Pembelajaran

Masih banyak sekali aktor atau pelaku pendidikan, baik terkenal maupun tidak dan  lembaga-lembaga pendidikan baik formal maupun tidak, yang berjuang, yang mengusung nilai-nilai sejati sebuah pembelajaran.”

Gap besar ternyata tidak hanya terjadi  dari segi kesejahteraan saja lho, hal ini berbanding lurus dengan segi pendidikan juga. Pendidikan masih menuntut ‘tiket masuk’ mahal untuk dapat diakses, termasuk pada lembaga-lembaga formal publik. Mengingat bahwa pendidikan bukanlah primadona di negeri berpenduduk sekitar 230 juta jiwa ini. Bahkan bukan hal tabu lagi jika banyak orang mencap pendidikan hanya sebagai salah satu sarana pengembangan bisnis—bahkan jika lembaga tersebut masih cukup pantas sebagai instansi pendidikan — yang hanya berorientasi pada peningkatan jumlah ‘konsumen’ sebanyak-banyaknya untuk masuk ke ‘toko’ dan membeli bermacam-macam ‘gelar’  yang disediakan.

Mungkin kita sendiri tidak perlu heran jika kemajuan teknologi atau keilmuan di Tanah Merah Putih masih belum juga menunjukkan perkembangan yang optimal alih-alih maksimal. Karena saya pribadi sangat menyadari kemampuan dasar saya sebagai seorang pembelajar yang masih sangat lemah, jauh dari cakap untuk sekadar membaca dan menulis secara  baik — yang berimbas lagi pada kemampuan memahami dan berpendapat — kemudian berlanjut pada membaca dan mendiagnosis permasalahan. Maka sangat jauhlah diri ini menjalani perintah pertama untuk meng-iqra’: Membaca.

No Access

Muara akhirnya adalah penerapan solusi berupa teori atau sistem, cara-cara atau metode, produk teknologi, rasa ataupun karsa yang bisa saja kurang atau tidak tepat — apalagi sekadar untuk menyelesaikan permasalahan yang ada (atau justru malah menambah masalah saja!). Jika ini diakumulasikan secara massal dan berlangsung terus-menerus, bisa sangat terbayang khan apa yang akan atau mungkin tengah terjadi.

Mengeksplorasi berbagai artikel dari web, blog, grup atau komunitas, milis, twitter dan facebook yang ditulis orang-orang berkapasitas cakap atas esensi pendidikan dan pembelajaran, setidaknya memberi  sebuah sudut pandang baru kepada saya —  dimana saya yakin bahwa esensi pembelajaran ini sudah terlebih dahulu ada di kejayaan bangsa-bangsa terdahulu (terutama pada masa Kekhalifahan Turki Utsmani).

Hagia Sophia

Di era serba mudah dan cepat ini –– meski belum tentu murah –– sesungguhnya segala hal telah dapat mungkin diakses sebagai sarana pembelajaran. Kita — kini— sangat mungkin dapat mempelajari apa-apa yang benar-benar kita inginkan atas apa yang ‘menggalaukan’ keingintahuan (curiosity) diri atas sesuatu, yang menjadi cikal bakal belajar sebagai passion, kesediaan (willingness) dan kebutuhan (need). Jadi ini adalah era dimana permintaan (demand) dan persediaan (supply) seharusnya dapat benar-benar cocok (compatible), karena para pembelajar kini bisa memilih sendiri guru-gurunya yang bahkan belum pernah mengenal-satu-sama-sekalipun alih-alih bertatap muka.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa banyak orang–termasuk saya sebenarnya–merupakan konsumen setia pada produk-produk pendidikan ini, bahkan hingga saya mem-posting blog ini, pun saya tetap melewati dan tergantung sekali pada jalur pendidikan pendidikan secara formal.  Lalu apakah saya adalah orang munafik dan omong besar saja — dengan hanya bisa mengutuk kegelapan ketimbang menyalakan lilin sebagai penerang — mungkin saja memang begitu dan saya juga menyerahkan penilaian akhir pada orang-orang yang memang fitrahnya adalah selalu menilai dan membandingkan.

Pembelajar Belajar

Hanya saja kok saya benar-benar merasa tergelitik dan tergerak untuk mem-posting tulisan bertema pendidikan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat ini ya. Tentu saja saya juga tidak akan benar-benar menilai secara ekstrem sangat benar atau salah, sangat bagus atau buruknya atas metode, institusi, dan banyak hal yang berkaitan erat dengan pendidikan atau pembelajaran di negeri yang tengah menggeliat perkembangan ekonominya kini. Sebab saya selalu yakin bahwa di luar sana–– atau sangat mungkin justru ada di sekitar kita — masih banyak sekali aktor atau pelaku pendidikan, baik terkenal maupun tidak dan  lembaga-lembaga pendidikan baik formal maupun tidak, yang berjuang, yang mengusung nilai-nilai sejati sebuah pembelajaran.

Saya bukanlah tokoh pendidikan — bahkan juga untuk dikategorikan  sebagai insan teladan yang menorehkan prestasi disana-sini untuk bisa disandingkan dengan para tokoh atau pejuang pendidikan, lembaga serta agent of change-nya program social movement yang mengabdikan dan memperjuangkan pendidikan hingga perubahan di negeri ini. Dan pada akhirnya saya hanya blogger yang juga seorang pembelajar berkeinginan berkontribusi menghilangkan paradigma bahwa kita bukanlah bangsa yang takut mengemukakan pendapat, yang malu untuk dinilai, yang selalu takut atas perbuatan yang selama ini bahkan tidak pernah kita mulai alih-alih diwujudkan.

Berpendapat

Akhirulkalam, selalu saja tercipta ruang-ruang kesalahan yang muncul di setiap diri seorang manusia terutama diri ini yang sok-sokan untuk berpendapat. Oleh karena itu, interaksi tentu saja diharapkan untuk dapat didiskusikan agar dapat menjadi pengingat, nasihat dan bekal di kemudian hari.  Dan bukankah kita pernah diingatkan agar tidak menjadi manusia yang berada di dalam kerugian.  Kecuali kita terlebih dahulu beriman dan beramal soleh, serta saling berwasiat tentang kebenaran dan saling berwasiat tentang kesabaran. Semoga kita menjadi orang yang beruntung. Aamiin.[]

@DediWiyanto

———————————————————————————————————————

Photo Credit: (fig.1) Michael C. Kwiecinski | (fig.2) Nicholas Pitt | (fig.3) John Wildgoose | (fig.4) Lee Blankenship

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s