“Telling Stories With Data” atau “Telling Data With Stories”?

Dengan cerita (story) sebagai media utama perkakas (tool) pembangun kebijaksanaan (wisdom) yang tidak pernah habis tertelan zaman.”

Jum’at kemarin saya bercerita kepada si adek tentang sirah nabi, yang chapter-nya bertepatan dengan perang Khandaq (perang parit). Saya menyampaikan sejarah pada tahun ke-5 pasca hijrahnya kaum muslimin dari Mekah ke Madinah Melalui buku sirah bergambar yang cukup menarik. Selang 2 hari sesudahnya, saya mendapatkan kembali repetisi  kisah 3.000 kaum muslim yang mengalahkan 10.000 kaum kuffar Quraisy  ini dengan pemahaman kian bertambah. Langsung teringatlah pada sebuah ungkapan bahwa kebaikan itu ibarat bumerang, akan kembali lagi pada pelemparnya.

Terlepas dari cerita Khandaq yang telah kita sama-sama tahu tersebut, saya merasakan perbedaan cara baru menyampaikan sebuah pembelajaran atas apa yang saya berikan dan terima. Ketika saya ingin menyampaikan data — dalam hal ini data sejarah — kepada si adek, saya (dengan pokok utamanya menyampaikan ilmu) menyampaikan data dengan bercerita. Telling Data With Story.

Anak dan Cerita

Tapi dari apa yang saya terima tentang pembahasan yang sama — masih pada cerita Khandaq. Saya mendapati kalau saya menerima (merepetisi ilmu) penyampaian sebuah cerita dengan menggunakan data. Telling Stories With Data. Melihat dari dua bentuk pembelajaran tersebut, saya baru tersadarkan tentang bagaimana anak-anak dan orang dewasa belajar.

Meski belum pernah melakukan survey atau meneliti secara langsung tentang pembelajaran ini, rasa-rasanya secara umum kita tahu bahwa anak-anak memang berorientasi pada cerita dan dan orang dewasa berorientasi pada data. Anak-anak tentunya harus diberi pasokan ilmu pengetahuan — berupa data dan informasi — guna meningkatkan kapasitas berpikirnya ke depan dengan mengutamakan data yang baik melalui pengemasan cerita yang menarik.

Orang Dewasa dan Cerita

Sebaliknya orang dewasa dengan kemelimpahan data dan informasi — sampai-sampai terjadi banjir informasi dalam pikiran — alih-alih enggan menerima informasi yang sebetulnya masih diperlukan dalam proses pembelajarannya perlu ada penekanan pada penyampaian cerita sebagai pokok utama tahap pembelajaran kini — repetisi akan ilmu yang sudah didapat —  dalam memperbaharui kebijaksanaannya (wisdom). Atas akumulasi data yang selama ini tersimpan agar tidak hanya mengendap dan bahkan tidak tahu kegunaannya.

Cerita

Dengan begitu, cerita — penuh hikmah dan nasehat — yang disampaikan dapat diverifikasi dan direvisi  melalui data-data yang kuat dan apik. Dengan cerita (story) sebagai media utama perkakas (tool) pembangun kebijaksanaan (wisdom) yang tidak pernah habis tertelan zaman. Hanya saja, sekali lagi harus tahu kapan dan untuk siapa menggunakan dua pendekatan pembelajaran yang berkelanjutan ini. Telling Stories With Data atau Telling Data With Stories. Wallohualam.[]

Photo Credit: (fig.1) Vyacheslav Osokin | (fig.2) Matthias Tunger | (fig.3) MattJeacock

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s