Indonesia Menggowes: Dari Melawai Hingga Ke Kampung Inggris

Sebenarnya kita sudah tahu berbagai cara yang baik untuk diri kita sendiri dan berdampak baik juga untuk lingkungan dan orang di sekitar kita, salah satunya adalah bersepeda. Hanya saja, sekali lagi ini adalah pilihan kita untuk mau atau tidak.”

Sejak ditemukannya sepeda pada awal abad ke 18 di Perancis (perkiraan Ensiklopedia Columbia)– pada awalnya sepeda disebut velocipede— cara orang untuk berpindah tempat menjadi berbeda, lebih cepat dan lebih sedikit menggunakan tenaga– dan pastinya lebih menyenangkan.

IMG_0808[1]

Pada pekan liburan kali inipun– hampir setiap pagi– saya melihat banyak orang yang bersepeda, entah itu berolahraga ataupun memang kendaraan utamanya (ketika liburan). Yang pastinya dengan kondisi ramainya sepeda di jalan sepanjang Moch Kahfi ini menjadikan semangat dan kesenangan bersepeda juga menjadi lebih besar.

Sebetulnya sudah banyak sekali komunitas yang menginisiasi gerakan bersepeda ke kantor hingga ke kampus– bahkan ada juga komunitas bikepacker (backpacker-an dengan sepeda). Tapi rasa-rasanya hal-hal ini lebih pada euforia dan event-event sesaat kalau saya lihat– semoga saya salah.

Melihat jalur khusus sepeda yaitu jalur yang terbentang mulai dari Taman Ayodya hingga Plaza Melawai (Jakarta Selatan) sepanjang 1,5 kilometer yang diresmikan tahun lalu oleh mantan Gubernur kita Foke.  Jalur tersebut kini seakan menjadi lokasi parkiran bagi kendaraan pribadi sejumlah kantor dan toko yang berlokasi di Jalan Melawai Raya.

jalur sepeda

Kemudian kita bisa  lebih ke selatan lagi, yaitu jalur sepeda di kampus UI Depok yang panjang trek-nya mencapai 10 km–  ini merupakan jalur sepeda terpanjang di dunia, lho– yang telah diresmikan pada 5 tahun yang lalu. Saya sendiri sih kalau melihat keseringan orang yang menggunakan sepeda di lingkungan kampus ini ya masih cukup jarang.

Karena mungkin memang terlalu jauhnya jarak antar lokasi yang ingin dituju jika menggunakan sepeda, bisa juga karena toh sudah ada bis kuning yang pastinya lebih nyaman dan aman, atau bisa juga kalau pakai sepeda lebih berisiko telat, badan berkeringat dan sejumlah alasan lain– yang saya pikir memang masuk akal.

Mungkin kalau pendapat bodoh saya sih, selain membangun track sepeda– dimanapun itu sekarang berada dan rencana untuk membangunnya ke depan– perlu juga ditambahkan fasilitas yang mempermudah penggunanya untuk lebih mudah mengganti bajunya yang berkeringat dengan adanya kamar pas di pos-pos sepeda atau sekadar menambahkan keran-keran air untuk minum dan mencuci muka.

sepeda masuk lift di jepang

Dalam banyak hal, sih. Sebenarnya kita sudah tahu berbagai cara yang baik untuk diri kita sendiri dan berdampak baik juga untuk lingkungan dan orang di sekitar kita, salah satunya adalah bersepeda. Hanya saja, sekali lagi ini adalah pilihan kita untuk mau atau tidak. Ditambah apakah lingkungan juga men-support kondisi pada habit baik yang baru– seperti penambahan fasilitas yang saya sebut tadi.

Kondisi bersepeda yang asyik justru saya dapatkan di Kampung Inggris, Pare, Jawa Timur. Di Kampung Inggris yang notabenenya merupakan tempat menuntut ilmu kebahasaan yang menurut saya sungguh hebat– karena berkualitas dunia dengan biaya kantong mahasiswa– menggunakan sepeda sebagai moda transportasi utamanya.

IMG00601-20120302-0529

Selama 2 minggu di Kampung Inggris ini, saya terkondisikan sekali untuk menggunakan sepeda kemana-mana, entah itu ngambil uang di ATM, jalan-jalan ke alun-alun, pergi solat Jumat ke masjid agung, dan pastinya pergi ke kelas-kelas pada subject yang saya ambil– bahkan kendala berkeringat dan terlihat kucel sepertinya tidak menjadi perhatian satu dengan yang lainnya. Jadi, bisa dibilang aneh kalau nggak pake sepeda di tempat ini.

Melihat berbagai kondisi bersepeda  dari Jakarta, Depok sampai pada Kampung Inggris di Jawa Timur ini. Sejumlah hal yang bisa lihat adalah Pertama, ini adalah persoalan mau atau tidak mau kita untuk menggunakan sesering mungkin sepeda sebagai moda utama berkendara kita. Kedua, sarana dan prasarana yang mendukung pengguna sepeda patut untuk diikutsertakan pada pembangunan jalur bersepeda. Ketiga adalah lingkungan memiliki peran besar dalam mengubah persepsi– dalam hal ini bersepeda.[]

IMG_0832[1]

Photo(s) by (fig 1,4,5) Dedi Wiyanto| (fig 2) Kompas | (fig 3) Edi Hariyadi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s