Don’t Tell My Mother I’m in Papua

Kekayaan bumi Papua tidak perlu ditanyakan lagi, segala jenis hasil alam dan tambang semuanya lengkap ada disini one stop resources

Awalnya saya pikir–dan yakin, Papua akan menjadi pulau pertama yang saya injak di luar Pulau Jawa setelah tahu akan berkunjung kesana. Ternyata kenyataan berkata lain, justru Sulawesi-lah yang  menjadi pulau pertama yang akhirnya saya injak setelah mengangkasa keluar dari Pulau Jawa.  Karena saya baru tersadarkan bahwa pulau besar terbesar ke-2 di dunia ini (setelah Greenland),  membutuhkan jarak yang menghabiskan waktu perjalanan kurang lebih 6 jam untuk mencapai Pulau Papua.

IMG00033-20111016-0324

Jadi bisa dibayangkan sekarang, betapa luasnya Nusantara ini, mengetahui lamanya perjalanan lintas pulau skala penerbangan domestik hingga harus transit 2 kali–di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar dan Bandara Sorong, Papua Barat–untuk mencapai ibukota Papua Barat, Manokwari. Ditambah perbedaan waktu yang mencapai 2 jam, menjadikan Papua ibarat negara asing nun jauh.

Manokwari, berluas wilayah 25 kali lebih besar dari Jakarta ini, tapi hanya berpenduduk 0,02 dari total penduduk Jakarta. Mencari masjid atau musholla di sini pun menjadi sebuah tantangan dikarenakan mayoritas penduduknya  beragama Katolik. Tidak heran pula jika, saya mendapati tugu selamat datang di kota Manokwari ini dengan  ucapan selamat datang di kota Injil.

Patung Orang Papua

Mengenai masalah makanan, terutama karena saya seorang muslim. Memilih tempat makan menjadi harus extra hati-hati karena keharamannya berdasar aturan Islam terutama babi–baik dari segi asal, cara dan hasil olahan makanannya– Dimana Manokawari memiliki potensi ternak babi yang cukup bisa mencapai 14.322 ekor per tahunnya, sehingga  ditemukan makanan olahan jenis babi diberbagai rumah makan menjadi begitu mudah.

Oleh karena itu, Rumah Makan Padang menjadi salah satu alternatif  favorit ketika berada di sini, selain karena kepastian kehalalannya–jenis masakannya pun sudah sangat tidak asing lagi di lidah. Dari sini jugalah saya membuktikan kebenaran omongan orang-orang  kalau Rumah Makan Padang benar-benar tersebar di seluruh pelosok Nusantara, dari Sabang hingga Merauke–hingga seluruh pelosok dunia.

Rumah Makan Padang Sabang-Merauke

Kekayaan bumi Papua tidak perlu ditanyakan lagi, segala jenis hasil alam dan tambang semuanya lengkap ada disini one stop resources. Dari beberapa tempat yang saya kunjungi, perkebunan kelapa sawit menjadi komoditas utama perkebunan di distrik sepanjang ruas Warmare-Prafi, sepanjang jalan saya lewati, sepanjang jalan itu juga rimbunan kelapa sawit ada di pinggir kanan-kiri jalan–meski setelah diketahui para pemilik kebun itu bukanlah para penduduk asli.

Penduduk Warmare-Prafi sendiri masih juga berjalan kaki untuk bepergian kemanapun tujuan mereka–padahal jalan nasional telah dibangun dengan baik dan bagus sebagai akses kemudahan mereka transportasi. Sekali lagi, kelemahan terlihat dari ketidakseimbangan pengadaan jalan terhadap pengadaan kendaraan yang jauh untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang sebagian masih berburu dan berkebun ini.

Mendapati babi yang dengan enaknya nyebrang di jalan raya juga bukan pemandangan yang asing lagi di sini. Karena babi–terutama jenis babi hutan–merupakan harta benda bagi para penduduk setempat yang sangat berharga. Bahkan sampai ada desas-desus kalau menabrak babi sampai mati maka kompensasinya adalah nyawa–untungnya juga masih ada informasi yang memberitahukan ada “negoisasi” dengan para penduduk setempat dengan mengganti rugi berupa uang yang jumlah uangnya tentu tidak sedikit.

DSCN8744

Berada di atas bumi Papua–tepatnya di dalam singa besi terbang–yang terbesit adalah “kegagahan” sebuah pulau yang tampak begitu kokoh dan tangguh ditambah rimbunnya pepohonan yg benar-benar belum tereksploitasi. Menjadikan saya serasa siap untuk mengarungi The Lost Island-nya pada film Jurassic Park di pulau yang sempat bernama Irian ini.

Berpetualang di bumi timur Indonesia ini, menghantarkan pada cita rasa baru mengenal sisi lain Nusantara ini. Mengenalkan pada bumi berlimpah kekayaan dan keunikan budaya.  Menjadikan perjalanan panjang 6 jam di ketinggian 15.500 kaki di atas permukaan laut ini menjadi perjalanan melintas dua zona waktu yang sangat benar-benar mengesankan.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s