Solidaritas Sastra Tuk Negeri Sejuta Syuhada

Every day we tell each other
That this day will be the last
And tomorrow we all can go home free
And all this will finally end
Palestine tomorrow will be free
Palestine tomorrow will be free

Artist: Maher Zain lyrics
Title: Palestine Will Be Free

Hadir dari sebuah bentuk keprihatinan yang berkepanjangan. Bukan sekadar penyambutan hari HAM sedunia saja, tapi lebih pada sastra yang mensiratkan makna melalui rasa atas tragedi kemanusiaan. Solidaritas Sastra ini lahir pada  Senin malam, 10 Desember 2012 oleh Bengkel Sastra UNJ, menjadi ajang luar biasa seluruh sastrawan Indonesia tuk hadir, berkumpul, dan berbagi sastra atas sebuah bangsa terjajah yang tak kunjung merdeka bernama Palestina.

Solidaritas Sastra Untuk Palestina

“Karena sesungguhnya kita bisa melakukan sesuatu :
menyebarkan tragedi keji ini pada hati-hati yang bersih,
memberi meski sedikit apa yang kita punya dan mendo’akan Palestina”
(kutipan puisi Helvy TR dengan judul “Apakah Sampai Padamu Berita tentang Mahanazi”)

Solidaritas Satra menjadi hal yang baru bagi saya, terutama sebagai bentuk solidaritas yang tidak biasa, membentuk pengalaman baru, penambah cinta kepada negeri berpenduduk 1,7 juta jiwa ini melalui wujud karya-karya sastra dari Indonesia untuk Palestina. Kolaborasi penyair-penyair lintas generasi berbalut rindu atas merdekanya bangsa saudara kita ini menjadikan acara begitu hidup nan memukau, mengundang decak kagum setiap penonton.

Rentetan nama-nama yang tiada asing di telinga para penonton, bermuara pada deretan kursi di Gelanggang Pertunjukan Bulungan, Jakarta Selatan menjadi penuh tak menyisakan tempat duduk tak bertuan. “Boleh saya lihat tiketnya?”, begitu pertanyaan dari seorang panitia begitu saya memasuki pintu masuk gedung. “Oiya, silahkan”, seraya seorang panitia, menggunakan t-shirt bersablon “Solidaritas Sastra Untuk Palestina” seragam dengan sejumlah orang-orang yang hilir mudik mengantarkan para pengunjung ke tempat duduknya masing-masing. Dengan sigap, dia mencari tempat duduk yang tertera pada tiket masuk saya, tidak lama kami sudah mendapati posisi yang dicari dan saya ucapkan terima kasih kepada Mba Ghea, setelah sempat saya tanyakan namanya sebelum dia bergegas pergi lagi.

Tidak perlu menunggu lama untuk merasakan atmosfir perjuangan Gaza pada ruangan gedung yang mampu menampung 350 penonton ini, tampak sebagian penonton lainnya menggunakan kafiyeh berbordir bendera Palestina dan Indonesia. Pun panitia mengecat pipi mereka persis sama dengan bendera pada kafiyeh penonton. Kompak dan harmonis kata-kata yang tepat untuk menggambarkan pemandangan ini.  Ditambah berbagai poster, umbul-umbul, backdrop dan musik pengiring latar serba Gaza, lengkaplah penonton dihadirkan pada suasana perjuangan tanah para nabi.

Ba’da maghrib, 30 menit sebelum waktu di jam saya menunjukkan pukul 7 malam, musik dari kelompok bengkel sastra UNJ mengiringi pembukaan acara yang dibawakan oleh duet pembawa acara. Dengan Bunda Helvy TR selaku ketua panitia memberikan pengantar pada malam bertabur bintang sastra-nya Indonesia. Maka rangkaian solidaritas sastra untuk penghimpunan dana yang akan dikirim ke Gaza resmi dibuka.

Sederet tokoh dan komunitas tenar baik pada bidang seni, budaya terutama sastra bergantian mengisi acara melalui presentasi, puisi, musikalisasi, theatrikal, nyanyian hingga drama.  Mereka yakni Taufiq Ismail, Sujdiwo Tedjo, Hidayat Nurwahid, Didi Petet, A. Fuadi, Habiburrahman Elshirazy, Fathin Hamama, Helvy Tiana Rosa, Fahira Idris, Astri Ivo, Dude Herlino, Oki Setiana Dewi, Ozy Syahputra, Cholidi Asadil Alam, Benny Arnas, Chaerul Umam,Tatty Elmir dan FIM, Boim Lebon, Jamal D. Rahman, Ical Vrigar, Yulia Chai, Bengkel Sastra UNJ dll.

Selepas menampilkan apresiasi masing-masing, para pengisi acara tidak serta merta turun dari panggung. Melainkan melelang barang-barang yang telah cukup lama menemani hari-hari mereka mengukir prestasi hingga detik mereka berdiri ini. Ada Kang Abik melepas peci yang selalu dipakainya kemudian dijual hingga mencapai harga Rp. 5 juta.  Tatty Elmir yang melepas tenun bernama subenale dengan sejarah yang mengesankan. Serta banyak lainnya hingga pengumpulan dana ini berhasil menghimpun dana sebesar Rp. 75 juta. Melalui Adara Relief Internasional, keseluruhan dana ini akan diserahkan untuk anak-anak Palestina.

Ketua Panitia, Helvy Tiana Rosa menyampaikan bahwa acara yang dirancang para mahasiswa Bengkel Sastra UNJ tersebut bersifat spontan dengan persiapan tak sampai dua minggu. (Facebook Bengkel Sastra UNJ)

Melihat apa yang berhasil ditampilkan, baik dari pengisi acara maupun panitia penyelenggara. Saya melihat ini adalah karya luar biasa  terlihat  disiapkan begitu matang melalui proses yang tidak sebentar. Melalui penampilan seni, budaya dan sastra yang penuh makna atas sebuah rasa dari mereka. Lengkaplah malam ini sebagai rekam-rekam rindu para pecinta sastra atas merdekanya bangsa Palestina.

Dari tanah bumi pertiwi, tuk negeri sejuta syuhada

Allohu Akbar.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s