Menyadari: Sebagai Awal Peningkatan

“When you change the way you look at things, the things you look at change.”
― Wayne W. Dyer

Pertama, Tentang Menyadari

Saya sering tidak sadar atas apa-apa yang saya belum ketahui, menjadikan diri ini telah banyak melakukan tindakan dengan dominasi yang sebenarnya lebih banyak tanpa dasar, minim ilmu, sedikit pengetahuan.

Mendapati untuk berbenah diri tidak lepas dari meningkatkan diri. Meningkatkan, tidak melulu tentang penambahan tapi dapat berupa pengulangan atas apa yang telah ada, yang telah dimiliki. Cenderung menggunakan persepsi yang sama denga wawasan kita yang tak kunjung bertambah Sedang perspektif adalah alat ukur  yang harus terus dikalibrasi akan pengetahuan yang terus-menerus berubah. Membaca adalah kalibrasi dalam hal ini.

Saya yang baru menyadari kesalahan, pun sadar ketika baru mengetahui melalui ilmu sesudahnya. Meski dalam banyak kasus, telah berilmu, tapi lupa menggunakannya alih-alih tak sadar memilikinya. Perubahan adalah hal terkonstan. Manusia sebagai pelaku (subjek) dan penderita (objek) secara bersamaan dari perubahan yang diciptakan dan diterimanya, terus-menerus menyeimbangkan sistem-sistem pada ranah kehidupannya.

Memulai, Mewujudkan!

Pada kesempatan lain, bukan banyaknya ide yang menjadikan manusia hebat melainkan bagaimana menghadirkan ide tersebut ke dimensi nyata dari hidup ini. Yakni, memulai lalu mewujudkan. Sekedar itu belum cukup, sampai dimana keberlangsungan harus menjadi bagian dari perwujudan tersebut. Bermula dari meniatkan yang baik, memulai serta mewujudkan niat baik tersebut dengan cara yang baik, hingga memberlangsungkan dan mewarisi produk kebaikan tersebut dengan penjagaan yang baik adalah siklus dari apa-apa yang selayaknya kita tingkatkan.

Berat, memang. Sulit, pastinya. Tapi begitulah kenikmatan yang dijanjikan, harus dilewati dengan perjalanan mendaki yang panjang nan sulit. Pun orang lain merasakan sakit yang sama dari perjuangan, entah itu baik atau buruk. Dan telah dipastikan akan ada ujian untuk membedakan golongan satu dengan yang lainnya. Meski begitu, bukan hambatan itu yang sepatutnya menjadi pemutus harapan kita pada pertolongan Allah, karena pada janji-Nya ada dua kemudahan setelah kesulitan yang Allah hadiahkan kepada hamba-Nya yang bersabar.

Wallohualam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s