Menulis

Menumpahkan segala apa yang tertuang dalam pikirian untuk dijadikan sebagai tulisan adalah sebuah bentuk upaya dan latihan dari untuk mengembangkan pikiran. Menulis itu berlandaskan pada mengembangkan diri atas kemampuan-kemampuan yang tersembunyi dalam diri, dalam pikir. Ada suatu hal yang khusus dalam mengembangkan kemampuan menulis, mengingat kita lebih sering bicara dalam menyampaikan sesuatu ketimbang dengan menulis. Sehingga menulis begitu teramat sulit dilakukan karena kemampuan bicara kita lebih cepat ketimbang kemampuan menulis. Kerja otak yang begitu rumitpun turut berperan dalam menambah kesulitan menulis, mengingat bahwa ide-ide serta rancangan yang berseliweran dalam otak melintas begitu cepat untuk dituangkan dalam tulisan secara baik secara terstruktur melalui sistematika yang tepat agar mudah dipahami orang. Bagaimanapun juga tulisan dibuat agar bisa dibaca khan?

Tak mudah bukan berarti tidak bisa dikerjakan, karena hal apapun bentuknya selama proses mencapai sesuatu, kesabaran diperlukan dalam tiap bagian proses. Karena tak ada gunung yang bisa ditembus, karang yang dihancurkan, hati yang keras melainkan dengan kesabaran.

Menulis adalah runtutan dari kelanjutan akan pemahaman dan keinginan yang hendak disampaikan. Sifat dasar manusia adalah berbagi, memberi. Terutama dalam menyampaikan suatu informasi yang telah didapat. Meski begitu, kapasitas nalar dan ingatan setiap orang adalah beda dalam menangkap informasi lalu mengelolannya untuk disampaikan, oleh sebab itu degradasi informasi mungkin saja terjadi hingga makna utama dari tujuan informasi tersebut tidak dapat disampaikan. Kendala begitu cukup banyak tersedia dalam kemampuan menulis terutama dalam aspek teknik menulis itu sendiri.

Menulis adalah hasil atau produksi dari sebuah sistem pengelolaan, oleh sebab itu tidak dapat dipisahkan bahwa membaca adalah input dan buku/bacaan adalah modal utama sebuah tulisan dapat dihasilkan. Seperti sebuah masakan, semakin baik dan uniknya sebuah bahan baku dari calon masakan disertai dengan resep dan metode pengolahan yang baik. Tak ayal bahwa masakan yang dihasilkan adalah masakan yang teramat enak dan sedap untuk dicicipi. Pun menulis dapat dianalogikan seperti, tulisan dapat dihasilkan jika inputnya diseleksi dari bahan-bahan bacaan yang baik, dan tentunya untuk memfilter bahan-bahan tersebut kita memerlukan banyak bahan bacaan agar ada “pilihan” dari bahan baku. Setelah itu jika kita belum memiliki resep dan metode yang baik untuk mengolah bahan baku tersebut. Kita dapat sementara meminjam resep-resep serta metode pengolahan milik orang lain terlebih dahulu.  Agar setidaknya kita memiliki variasi kemampuan  “memasak” milik orang lain. Hingga nanti, dari pembelajaran resep-resep yang menghasilkan produk tulisan dengan beragam rasa. Kita pada akhirnya dapat membuat resep masakan kita sendiri, unik serta tidak aka nada yang menyamai. Sebuah cita rasa pada masakan, sebuah cita rasa pada tulisan.

Kemampuan menulis sendiri sebenarnya adalah kemampuan dasar yang seharusnya dimiliki setiap orang. Hanya saja memang penggunaan kemampuan ini terbatas hanya pada kepentingan untuk kebutuhan sesaat saja, tergantung pada situasi memerlukan untuk menulis. Padahal jika kemampuan ini dikembangkan secara baik pada hingga tingkat tinggi dalam menulis, pengetahuan dan informasi akan semakin mudah diakses dan dikembangkan. Serta bermuara pada tingkat peradaban baik teknologi maupun social pada yang lebih baik dengan cepat dan tepat guna.

Sayangnya momok menulis itu sendiri seperti mempelajari matematika, belum dilakukan sudah takut, belum mengenal sudah ingin menjauh. Bangsa kita mudah begitu terpengaruh, tanpa perlu melakukan penelaahan lebih lanjut. Momok yang menakutan terus menerus ditanamkan pada pemikiran ke setiap anak-anak pada setiap generasi,sehingga pola ketakutan untuk berhitung, menulis, membaca atau sekedar haus akan ilmu pengetahuan menjadi keinginan yang  berada di prioritas terbawah. Padahal secara jelas Allah menyuruh pada manusia. Melalui firman pertama-Nya adalah membaca. Dan kita telah tahu bahwa kelanjutan dari membaca adalah menulis.  Semua proses tersebut adalah proses berpikir, dan berpikir adalah hal yang melebihkan kita dengan makhluk lainnya. Dengan kemampuan berpikirlah manusia dapat mengemban amanah yang tidak ada makhluk lain yang mau dan mampu untuk menanggung amanat yang terberat ini, ketika gunung tak mampu menanggung bebannya dengan jumawa manusia menyanggupinya, ketika lautan tak mampu menampungnya dengan angkuh manusia menerimanya, ketika langitpun tak mampu untuk menahannya dengan besar kepalanya manusia menggegamnya.

Pengelolaan adalah fungsi dari khalifah, sebuah fungsi structural teramat menggelisahkan suasana, meresahkan keseimbangan, menyerabut ketenangan, menguras fikir, mengguncang jiwa dan hati, menguras segala daya dan tenaga mengacaukan segala properti fisik dan jiwa dalam tiap sendi dan relung. Karena kelola hasil akhirnya adalah bentuk pertanggung jawaban detil dari tiap upaya dan tindakan yang dilakukan atas pengambil pilihan keputusan sebuah kesempatan, sebuah hak bagi manusia untuk memilih antara yang hak dengan yang bathil.

Berbicara tentang manusia dan kehidupanna sendiri tidak akan pernah habis ataupun selesai. Karena dalam sejarah kemanusiaan sendiri begitu beragam hal yang terjadi, berbeda atau mungkin sama pada tempat dan waktu yang berbeda ataupun mungkin juga sama. Selama manusia terus melangsungkan keberlangsungan kehidupan, selama itupula  manusia diberi warisan amanat untuk terus mengelola, melanjutkan, mempertahankan hingga meningkatkan sisi terbaik kemanusiaan itu sendiri. Dalam sejarah kemanusian itu sendiri, tulisan adalah sebagai perekam jejak dari kronologis yang terjadi, tulisan menyampaikan, mengabarkan, menceritakan dan mungkin saja berbohong tentang apa yang telah terjadi. Tulisan adalah pengaruh, tulisan adalah buah pikir baik personal maupun sekumpulan yang tercatat yang diminta untuk untuk dibaca dan dipelajari lintas ruang dan waktu, menjalin kesepakatan dan kepemahaman antar generasi. Tulisan adalah komunikasi, yang tidak dapat dibatasi oleh usia yang begitu pendek yang menghubungkan antara guru dengan murid , antara penyampai hikmah dengan penerima hikmah, antara kesalahan dengan perbaikan. Tulisan adalah dinamika yang akan terus berkembang, karena tulisan selalu melintas zaman untuk meminta dibaca,dikaji, dipahami, dikoreksi, direvisi entah ditambah atau dikurang. Seiring itu pula pola pikir manusia dan peradaban turut berubah, karena hal yang konstan adalah perubahan itu sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s