Penantian

Penantian atas sebuah kepastian yang terjadi adalah sebuah bentuk menunggu dengan kesabaran.

Berbeda dengan penantian atas sebuah ketidakpastian yang mungkin terjadi adalah bentuk menunggu dengan kemawasan dirian.

Keduanya akan dan telah terjadi, tetapi respon atas keduanya selalu berbeda setiap waktunya. Entah itu lebih baik atau lebih buruk. Memperbaiki adalah jalan satu-satunya menuju perubahan yang diharapkan pada tujuan akhir perkembangan.

Secara umum orang-orang selalu menginginkan perubahan besar dan tampak dalam kehidupan di masa mendatangnya. Sedikit orang yang melakukan perubahan kecil secara perlahan tetapi pasti menghasilkan kepastian pembesaran pada dirinya.

Secara ketidaksadaran pada pemikiran adalah bahwa kita begitu menginginkan terkenalnya diri, bukannya menampilkan kebermaknaan diri atas rasa memberi dalam arti yang sesungguhya. Sedikit yang mau sadar dan lebih sedikit yang mau menjalani proses sakit dalam pergeseran makna tersebut. Tak sedikit yang terhambat, tak sedikit yang menyerah, banyak yang gagal.

Tidak perlu resah dengan kemampuan yang hanya sedikit tampak ataupun baru dikuasai, suatu saat akan ada tumpukan dari sedikitnya kemampuan tersebut. Selama selalu ada cicilan atas tumpukan-tumpukan yang kita taruh. Akan ada kesempatan untuk menuangkan tumpukan kemampuan tersebut pada momen yang telah ditetapkan pada kitab terdahulu yang pertama.

Dan jika penantian yang hadir ternyata adalah sebuah bentuk ketidakharapan yang kita inginkan, beberapa respon yang dapat kita suguhkan pada hasil penentuan tersebut adalah penolakan atau penerimaan. Kita diberi keberhakan atas kesungguhan memilih dari pilihan yang ada. Dan jangan ragu atas keinginan hati yang murni atas kebimbangan dan keresahan atas sesuatu yang belum terjadi. Terkadang asumsi hasil ekpektasi begitu rancu yang menjadi racun atas segala bentuk ketakutan-ketakutan yang tidak beralasan.

Selalu mencoba menciptakan alternatif kebahagian diri membuat kita tetap waras di dunia yang terdominasi oleh bentuk ketidakwarasan-ketidakwarasan yang berpendar pada pusat kehidupan yang tengah kita jalani.

Diharapkan untuk tidak mencoba berpasrah pada keadaan, sebab terkadangnya kawanny a yang bernama keputusasaan begitu dekat untuk setia menemani kedatangannya. Mencoba memastikan atas menanam kebaikan, juga meningkatkan pemastian atas kebaikan yang akan kita tuai.

Jadi tetap meyakini sebuah kebenaran sebagai sebuah kebenaran adalah sebuah bentuk mempertahankan kebenaran yang jangan sampai diganggu gugat. Jika keyakinan bergeser pada suatu kesalahan sebagai sebuah kebenaran adalah sebuah bentuk kelabilan yang memungkinan pikiran menuju pada ketidakberdayaan. Setiap sesuatu ada pembanding sebagai parameter untuk menuju kecenderungan pada penentuan dominan benar atau salah, usaha untuk berpikir dan mencari tahu akan menghasilkan akhir pada jawaban bahwa kebenaran akan muncul dari lubang terkecil sekalipun.

Meskipun yang sering terjadi sekarang ini adalah bentuk-bentuk manipulatif yang beragam bentuknya, jangan takut atas ketidakbenaran yang sedang hadir. Karena akan ada masanya itu tergantikan. Dunia tidak suka kekosongan.

Lalu setelah penantian ini apalagi yang harus ditunggu. Jika penantian tidak menghasilkan apa-apa dari makna penungguan. Untuk apalagi menunggu lebih lama. Apakah menanti itu hanya menunggu dan berdiam diri. Apakah ingin mendapatkan sebuah hasil yang baik hanya mengandalkan sebuah penantian tanpa mau untuk menciptakan keresahan yang mendorong pada sejumlah upaya. Keputusan yang harus dinantikan?

Setelah sejumlah pengharapan mendobrak untuk keluar dan membentuk kebulatan tekad, apa atau siapa yang dapat menghalangi kecuali kengganan diri sendiri untuk mengikis keinginan tersebut. Lalu penantian mana lagi yang harus segera diputuskan?

Kerelatifan akan merasakan waktu akan menjadi kebertahanan kita untuk diam atau terus. Lambat kadang begitu menyesakkan, cepat begitu mendesak. Jangan menjadi enggan atau tergesa karena keduanya respon terburuk dalam situasi apapun. Respon tanpa pemikiran dan pertimbangan. Sehingga menghasilkan pada hasil yang juga tanpa kemasan pengetahuan dan pengalaman. Jangan menjadikan upaya yang sedang dijalani sebagai potensi kebersiaan yang dimungkinkan untuk muncul dan bertransformasi menjadi bentuk penyesalan-penyesalan yang tidak bertanggung jawab. Mari merencanakan bentuk penantian kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s