Jumuah 22 Ramadhan 1433 H

Pada perguliran waktu, sejumlah peristiwa berlangsung entah direncanakan pun tidak direncanakan. Sebagian dari peristiwa tersebut pada akhirnya menjadi sebuah momen dari pilihan yang harus diambil. Manusia memilih, entah pada kesempatan personal maupun bersama. Ruang lingkup kita adalah memilih antara kebaikan atau keburukan, tidak lebih dari itu. Karena tidak jarang, sering mungkin bahwa kita berencana A atau B malah justru yang terlaksana adalah C. Karena inilah bagian dari kejutan-kejutan takdir yang begitu luar biasa, hingga sering akhirnya kita berakhir pada prasangka-prasangka yang tak jarang prasangka buruk.

Tiap interaksi adalah paketan sosialita yang harus kita terima secara utuh, tidak bisa dikurangi atau dilebihkan. Paketan sosialita yang terdiri atas kesempatan peningkatan atau penurunan dari kualitas interaksi yang terjadi. Kesempatan berupa peluang atau tantangan tak terelakkan, inilah lingkup dari ruang pilihan bagi manusia. Setelah pemutusan dari pilihan sebuah kebaikan atau keburukan yang jelas dan nyata, maka kita telah memasuki rute takdir yang telah dipersiapkan dengan sebaik-baiknya oleh Allah.

Dalam sebuah Kisah Ashabul Kahfi, terdapat sabda nabi :

“Al Arwahu Junudun Mujannadah Fama Ta’arofa Minha, Talafa Wama Tanakaro Minhakhtalafa…”
(Sesungguhnya) ruh-ruh itu seperti pasukan yang berbaris (ketika di alam arwah)…jika dahulu mereka saling mengenal (di alam arwah) maka mereka akan berkasih sayang(di dunia), dan jika dahulu mereka saling bermusuhan, maka mereka akan saling berselisih (di dunia). (HR Muslim dari Abu Hurairah ra)
Inilah pilihan dari sebuah interaksi yang berawal dari perkenalan, bukan pada sebuah awal tapi lebih pada keberlanjutan. Tentunya setan tidak suka situasi keberlanjutan dari kerukunan ataupun ketentraman, ada misi yang harus dijalankan setan untuk merusak keseimbangan interaksi yang tengah berlangsung guna mencapai tujuan perselisihan dan pemisahan dari tali silaturahim.
Inilah pilihan yang manusia harus memilih antara mencapai keberlangsungan yang baik atau membantu terlaksanya misi setan. Nauzubillahiminzaliktentunya kita tidak ingin menjadi hamba-Nya yang difirmankan oleh Allah pada ayat berikut

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي اْلأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ

Artinya: “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan ? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikanNya telinga mereka, dan dibutakanNya penglihatan mereka.” (QS Muhammad 47:22-23).

Berkawanpun merupakan salah satu rahasia lain di balik penciptaan. Keragaman dari tiap masing-masing manusia merupakan iradah dari Allah yang terabadikan pada QS. Ar-Ruum: 22

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.”

Kemudian dari urusan berkawan inipun bukan urusan yang sederhana. Akan selalu ada pilihan yang berbuah pada kenyataan. Dari interaksi ini pulalah ada dua kemungkinan amal yang dapat dilahirkan, pemberat yang nyata pada amal keburukan atau pemberat yang nyata pada amal kebaikan. Wallohualam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s