Terjebak pada Hukum Jante

“Hukum Jante. Itu sudah ada sejak awal kebudayaan manusia, tapi baru secara resmi ditulis pada tahun 1933 oleh seorang penulis Denmark. Di sebuah kota kecil bernama Jante, para penguasa mengumumkan sepuluh perintah yang mengatur bagaimana orang harus bersikap, dan itu kelihatannya tidak hanya berlaku di Jante, tetapi di semua tempat juga. ….. ‘Sikap menerima dan tidak menonjolkan diri adalah pilihan yang paling aman. Kalau kau memilih itu, kau tidak akan pernah menghadapi masalah besar dalam hidupmu’…..”

“kalian bukan siapa-siapa. Jangan pernah menganggap kalian lebih tahu daripada kami. Kalian sama sekali tidak penting, kalian tidak bisa melakukan apapun dengan benar, pekerjaan kalian tidak berarti, tetapi kalau kalian tidak menentang kami, kalian akan hidup bahagia. Selalu terima sepenuh hati apa yang kami katakan dan jangan pernah menertawakan pendapat kami”

The Zahir, oleh Paulo Coelho

Dari membaca buku The Zahir-nya Paulo Coelho, fenomena inilah yang sekarang terjadi ditengah-tengah interaksi sosial masyarakat kini. Setiap manusia yang sesungguhnya unik telah ditetapkan pada susunan DNA masing-masing dari kita. Muara perbedaan susunan ini menjadikan tiap kita beda, menjadikan kita memiliki potensi yang tak akan dimiliki oleh orang lain di muka ini pada ruang dan waktu yang berbeda sekalipun.

Hukum Jante yang disebutkan oleh Paulo pada bagian paragrafnya merekam jejak peristiwa pembunuhan karakter manusia yang telah terjadi selama kurang lebih 79 tahun sejak dicetuskannya hukum tersebut. Pun kita bisa memprediksi apa yang terjadi sepanjang sejarah manusia yang telah terjadi, penyembunyian potensi atas insan-insan yang dianggap berbeda pada potensi ataupun pemikiran pada jengkal tanah air dan masa kehidupannya.

Potensi yang harus disembunyikan karena dianggap akan merubah kesetimbangan yang telah. Bakat yang harus ditutupi karena akan ditakuti mengerahkan revolusi dalam berbagai   bidang secara simultan. Kemampuan yang harus ditopengi agar dianggap sama dengan orang lain secara mayoritas karena diprediksi akan mengganggu wilayah ketenangan orang lain.

Degradasi potensi seiring terjadi dengan upaya menutupi diri, memusnahkan bakat atau potensi yang mungkin tidak akan pernah ditemui lagi pada tempat dan waktu yang berbeda. Inilah kehidupan bumi manusia. Seleksi alam menandakan juga kompetisi seleksi atas bakat. Satu meniadakan yang lain. Jika ini terjadi pada antar manusia, maka dapat dilihat pada struktur kehidupan antar makhluk yang ada.

Maha Besar Allah dengan segala kemurahan-Nya, tanpa cela dan kurang pada setiap makhluk ciptaan-Nya.

Tentunya fenomena ini terjadi bukan tanpa sebab, karna bawaan dari manusia itu sendiri adalah untuk memenangkan dirinya atas segala kompetisi mengeliminasi orang lain dalam mencapai sebuah visi. Lalu  toleransi bergeser dan menghilang tak berwujud nyata dalam wujud apapun. Hingga seakan interaksi bersosialisasi memudar seakan diri bisa hidup tanpa orang lain. Tentunya Allah Maha Benar dan Maha Mengetahui atas segala hal yang terjadi.  Jika kedzaliman telah menimpa pada sekelompok manusia yang telah berikhtiar serta bertawakal menggantungkan segalanya melalui doa kepada Allah maka tinggal sabarlah orang-orang tersebut menunggu hukum keadilan Allah baik di dunia terlebih di akhirat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s